Lupa Membawa Topi
Pagi itu adalah hari senin yang sangat cerah, tepat pada pukul 5 pagi aku bangun dari tempat tidur dan mulai melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berwudu, dan segera menunaikan salat subuh. setelah itu aku mandi dan sarapan pagi dan menyiapkan segala isi tas untuk segera berangkat ke sekolah.
Aku
kemudian melangkah menuju tempat parkir untuk mulai memanaskan mesin motor. Saat kucoba
menyalakannya, mesin motor tidak kunjung menyala. Kucoba lagi hingga berkali-kali,
tetap saja tidak mau menyala. Akhirnya, aku mulai membongkar busi mesin dan
menggantinya dengan cadangan yang ada, akhirnya motor kembali menyala.
Setelah
motor menyala aku melihat jam dinding yang ada di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB yang artinya 15
menit lagi upacara di sekolah segera dimulai. Lantas aku mulai menaikkan motor
dan memacu kendaraan agar sampai di sekolah tepat pada waktunya.
Melaju
cepat dan sampai ke sekolah tepat waktu, itu yang terus aku pikirkan di jalan
agar tidak dihukum sampai sekolah. Beruntung sesampainya disekolah gerbang belum ditutup.
Aku pun cepat-cepat memarkir kendaraan di halaman dan menuju ruang
kelas untuk menaruh tas dan segera ke lapangan.
Tidak
disangka ketika aku membuka
tas untuk mencari topi ternyata itu tidak ada. Perasaan panik pun mulai menyerang. Aku akan dihukum di depan lapangan atau tidak, aku mulai
berbaris di lapangan dengan berdiri di barisan yang paling belakang. Tengok keadaan sekitar
melihat apakah ada guru pengawas di belakang atau tidak.
Upacara
dimulai, beberapa anak juga ada yang tidak mengenakan topi. Ada yang terlihat
panik dan ada pula yang merasa biasa saja seolah tidak ada aturan yang
menegaskan wajib mengenakan topi pada saat upacara. Guru pun satu per satu
mulai berkeliling untuk memeriksa siswa yang tidak lengkap mengenakan atribut
upacara, aku pun mencoba untuk bersembunyi dengan menyelak ke barisan tengah
dengan ditutupi oleh temanku.
“Pak,
ada yang tidak menggunakan topi nih.” Ujar temanku yang berada dua baris dibelakangku dengan nada
tinggi sehingga terdengan oleh guru. Sontak saja guru menghampiriku dan
langsung menyuruhku untuk berdiri di depan lapangan yang pada pagi itu matahari
sedang bersinar dengan cerahnya.
Hingga
upacara selesai, aku dan beberapa siswa yang lain masih ditahan dan dimintai jawaban mengapa tidak mengenakan atribut dengan lengkap. Sampai
jam pelajaran pertama selesai, siswa yang ditahan di lapangan tadi baru
diijinkan untuk masuk ke kelas.

Tidak ada komentar